“Gue gak mau ya! Lo kok maksa sih? I’m not a drug dealer!” jerit Shinta saat ia mendapati dirinya terjebak dalam kesempitan. “Lo harus! Katanya lo mau ngehancurin hidupnya Baby?! Ini saat yang tepat! Remember, she stole your boyfriend!” balas Audrey sambil menyodorkan kantung kecil dengan bubuk putih didalamnya. Shinta terdiam sejenak. Her future is at stake. “Okay, I’ll do it.”
4 hours earlier.
Hidup jadi teenage model itu susah. Banyak kendala dan berbagai macam lainnya. Dan ini bisa bentrok jadwal sekolah. Oh ya, nama gue Amanda Baby Damarbrata. Panggilannya Baby. I work as a model in the most popular teen magazine in Jakarta, Us Girls. And here I am, in a middle of photo shoot, busy as h-e-l-l. Orang-orang berlarian kesana kemari saking sibuknya. Banyak juga model lain yang bakalan berpartisipasi nantinya. Bulan ini, temanya tentang kehidupan malam. Alias, jadi vampir. Ini karena lagi musim-musimnya film-film kayak Twilight, atau serial tv Vampire Diaries & True Blood. Para cewek-cewek lagi tersihir sama Edward Cullen, Stefan Salvatore, dan Bill. No wonder why. “Ayo semua! Kita akan mulai dalam 5 menit!” seru Mbak Jane, sang asisten. Semua bersiap menuju set. Gadis-gadis ini tampak horor dengan kostum dan make-up. Semua bersiap dengan posisi masing-masing yang sudah ditunjukkan fotografer. Hari ini gue….loyo. Lemes dan lunglai. Kantung mata dibawah mata gue keliatan banget. Kecapean mungkin. Mbak Jane berulang kali ngebentak gue karena gue gak semangat. Seriously? Don’t you see I’m tired? Shinta & Audrey, partner gue, bekerja sangat maksimal. Ngga biasanya mereka gini dan anehnya mereka senyum ke arah gue. Entah itu senyuman biasa atau ada arti lain dari senyuman itu. Apalagi setelah insiden di sekolah………..
Jadi gue emang jadian sama Reno, mantannya Shinta. Udah 5 bulan kita jadian dan emang adem ayem aja, tapi setelah Shinta dateng lagi…Gue gak ngerti harus ngapain. Reno sih udah biasa aja sama Shinta, tapi justru Shinta yang maki-maki gue karena gue dibilang perebut pacar orang. Gue gak bisa ngapa-ngapain. Gue ngebela diri tentunya, tapi sayangnya backingan Shinta lebih banyak dari gue. Reno pun kabarnya udah gedeg sama Shinta, tapi dia juga gak bisa ngapa-ngapain lagi selain ada di samping gue karena dia gak mau main fisik sama cewek.
Saat semuanya selesai, kita semua kembali ke ruang make-up, bergegas pulang karena kelelahan. Gue mengambil tas dan rapi-rapi, merogoh-rogoh isi tas guna mencari Blackberry. Karena ngga ketemu, akhirnya gue buka lebar-lebar itu tas. Tiba-tiba, gue nemuin sebuah kantong yang tak lain dan tak bukan adalah……………..drugs. SERIOUSLY?! WHO PUT THIS THING INTO MY BAG?! Shinta ngelewatin tempat gue berdiri dan melongok sedikit. “OH GOD! DO YOU BRING DRUGS?!?!?!” teriak Shinta. Semua orang menoleh ke arah Shinta dan gue. Shinta nunjuk-nunjuk barang yang gue pegang. “NGGA! INI BUKAN PUNYA GUE!I SWEAR TO GOD THIS ISN’T MINE! TADI GUE NEMU DI DALEM TAS SECARA TIBA-TIBA!”. Hening. Gak ada satupun yang bicara. Mbak Jane merebut barang yang gue pegang. Ia meneliti barang itu dan alisnya pun mengerut. “BABY! BERANI-BERANINYA KAMU MEMBAWA BARANG INI! Pantes daritadi kamu loyo dan sebagainya! Ternyata kamu anak malam yang suka main kelayapan ya! Dasar anak gak bener!” bentak Mbak Jane sambil melempar barang itu ke lantai. JLEB. Kata-kata yang fantastis itu nusuk banget. Asli. Dibilang anak yang gak bener? YOU DON’T KNOW ME!. Gue ngeliat Shinta & Audrey cekikikan. Mereka pasti dalang dari semua ini. Gue cuma bisa menghela nafas dan ngomong sejujur-jujurnya orang jujur.
Now
“Aku gak terima kamu digituin!!!!” ucap Reno yang daritadi mondar-mandir karena gak terima gue digituin. Setelah insiden itu, Mbak Jane berencana buat lapor polisi. Tapi karena gue udah masang muka melas dan bilang kalo itu bukan gue, hati kecilnya kayaknya tersentuh dan akhirnya dia gak lapor polisi dan memilih to keep it private, but instead, I got fired. “Ren, udah dong jangan marah-marah kayak gitu. Kan aku yang ngalamin.” ucap gue sambil mengaduk-ngaduk cappuccino yang dibuatin Reno. Gue dan Reno memutuskan buat bicara soal ini in our favorite spot, Tree House. Tree House yang gue buat sama Reno diatas pohon rumah gue itu worth it banget. Gak sia-sia jerih payah kita mulai dari izin sama orang tua masing-masing sampe bolak balik nyari ide dan kayu-kayu yang bagus. Secara dari rumah Reno ke rumah gue cuma makan waktu 3,5 menit (menurut itung-itungan dia) karena rumah kita cuma beda beberapa blok. Dan kebetulan, orang tua gue sama orang tua Reno udah sahabatan dari SMP. Takes time to be together, huh? “Ya aku ngga terima, Beb! Kamu dari 0 pengen dapetin apa yang kamu pengen tapi dalem sekejap diancurin sama orang kayak Shinta!”. Kini amarah Reno menjadi-jadi. Siapa sih yang ngga marah ceweknya digituin?. “Bebi nggapapa, Ren! Aku juga pengen rasanya ngebejek-bejek Shinta. Tapi kalo aku ngga punya bukti juga aku ngga bisa ngadilin dia.” ucap gue pasrah. Kalo ngga ada bukti ya mau gimana lagi? Akhirnya Reno duduk. Dia menghela nafas panjang. “Beb, gini ya aku ngga nyesel jadian sama kamu. Gak akan. Tapi tolong maafin mantan aku yang kayak gitu. She shouldn’t treat you like that. I’m sorry.” ucap Reno, ngeluarin puppy eyes-nya. Gue cuma ngangguk karena gue juga udah nggak berdaya ngomong dan lemes. “Okay. Give me a bear hug.”
To Be Continued.
Give me a comment! Hope someone finds me and read :)
Love,
M






